Naik motor atau mobil, perjalanan menyusuri Saluran Jaringan Induk Mataram bisa dilakukan hanya setengah hari. Tak sepanjang fakta sejarah yang melekat pada pembuatan saluran yang terbagi atas Jaringan Irigasi Karang Talun, Selokan Mataram dan Selokan Van der Wicjk ini. Sampai hari ini, Saluran Mataram tetap berfungsi baik dan mengundang daya tarik wisata khusus yang layak digali.

SEJARAH dan pesona yang tak terpublikasikan inilah yang menggerakkan kami untuk menyusurinya. Apalagi cuaca pada hari itu begitu ramah, setelah sebelumnya kerap didera hujan deras. Mas Sulistyo, Mas Jasminto dan Mbak Woro, tiga staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, menemani kami melakukan perjalanan yang mengasyikkan ini.

Start dari kantor instansi itu, naik mobil dinas yang disopiri Mas Sulistyo, kami berlima meluncur ke utara lewat Jl Magelang. Belok ke barat di perempatan traffic light Tempel, lalu menuju ke hulu Saluran Mataram di kawasan wisata Taman Air Ancol.

Lokasi itu berada di Desa Banjaroyo Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Dekat pula dengan wilayah Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Jaraknya dari Yogyakarta sekitar 37 km, atau dari Wates sekitar 40 km. Bendungan berarsitektur Belanda yang berada pada kelokan Sungai Progo, sungguh menarik perhatian kami.

Termasuk teknis bangunan pemecah arusnya, yang terbagi atas empat saluran yang dibuat menikung. Di dekatnya ada 5 sumber mata air bening yang dimanfaatkan oleh warga setempat. Tempat ini sebenarnya sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga sembari menikmati panorama yang khas alam sungai.

Tapi sayangnya, infrastukturnya kurang mendukung dan lingkungannya tidak terawat. ”Kalau hari Minggu atau liburan, biasanya banyak orang yang kemari,” tutur Mbah Wasito (85), warga Ngluwar yang tengah mencari rumput di lokasi itu.

Pria lanjut usia ini masih ingat, Belanda mulai membangun bendungan tersebut sewaktu ia berusia 10 tahun, 1932 lampau. Lalu sejarah diteruskan dengan pembangunan Selokan Mataram pada masa pendudukan Jepang, yang dulu bernama Kanal Yoshiro. Sebuah gagasan brilian dari Sultan Hamengku Buwono IX, demi menghindarkan rakyatnya jadi korban kerja paksa atau romusha.

”Sedangkan yang berada di barat Sungai Progo, itu dibangun sekitar tahun 1950, setelah Indonesia merdeka dari penjajah. Pembangunan itu berlanjut sekitar tahun 1980-an. Sejak itulah nama tempat ini lebih populer dengan sebutan Ancol,” kata Mbah Wasito, yang walau pendengarannya berkurang, tapi ingatannya masih tajam.

Interkoneksi Dua DAS

Di prasasti pembangunan Bendung Karang Talun tertulis, rehabilitasi bendungan dilakukan di tahun 1980 dan diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (saat itu -red), Ir Suyono Sosrodarsono. Kini dikelola oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Progo Opak Oyo (Balai PSDA WS POO/Balai POO). Secara administrasi wilayah kerja instansi tersebut meliputi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul.

Menurut informasi dari Balai POO, Sungai Progo yang mengalir dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sampai di Kabupaten Bantul merupakan sumber air utama di DIY. Debit air rata-ratanya 21,5 m3/detik pada periode April-Oktober (musim kemarau). Serta 136,75 m3/detik pada periode November-Maret (musim penghujan). tapi sering pula debit airnya mengalami penurunan secara drastis dibawah 10 m3/detik pada akhir musim kemarau.

Jaringan Induk Saluran Mataram, terbagi atas Saluran Induk Karang Talun yang panjangnya lebih dari 3 km, Selokan Mataram (31,2 km) dan Saluran Van der Wicjk (17 Km). Bangunan irigasi ini merupakan jaringan interkoneksi antar Daerah Aliran Sungai (DAS), yakni antara DAS Progo dan DAS Opak.

Pada planing system-nya dipakai untuk pelayanan irigasi seluas 33.000 Ha, untuk pengelontoran sistem sanitasi kota sekitar 0.4m3/dtk dan suplesi keperluan industri Gula Madukismo 0,55 m3/dtk pada musim giling. Serta 0,22 m3/dtk pada musim pemeliharaan melalui suplesi di Sungai Winongo yang diambil di Bendung Korbri.

Dikotori Limbah Domestik

Perkembangan di wilayah areal irigasi menyebabkan penyusutan luas areal pelayanan, yang diperkirakan tinggal 21,194 Ha. Tapi bukan berarti air menjadi berlimpah karena dengan adanya pengurangan areal tersebut. Saluran Mataram saat ini justru menghadapi berbagai macam masalah. Antara lain faktor teknis, usia bangunan yang sudah tua, sedimentasi, kebocoran-kebocoran di bagian bangunannya dan pemakaian di luar planing system-nya.

Namun demikian, daya tarik sejarah dan pesona panorama alam persawahan di sekelilingnya masih bisa kami nikmati. Khususnya di wilayah Sleman Barat. Misalnya saja di tepi Jl Raya Tempel-Klangon, tepatnya di Dusun Tangisan Desa Banyurejo Tempel.

Aliran Selokan Van der Wijck di sana merambat naik menuju ke Minggir. Di kanannya terlihat persawahan yang ramai disinggahi burung kuntul. Sedangkan di kirinya ada usaha rumah makan dan pemancingan. Suasananya tenang, cocok bila dikembangkan menjadi tempat wisata keluarga.

Apalagi kalau ada fasilitas perahu yang dinaiki bolak-balik di bagian selokan itu, tentulah menyenangkan sekali. Itu pun masih bisa diteruskan menyusuri sepanjang Selokan Van der Wicjk hingga ke Dusun Jamur di Sendangrejo Minggir, Sleman. Beristirahat di sana, sambil menikmati berbagai olahan udang galah yang disajikan sejumlah rumah makan di tengah kolam.

Pesona alam persawahan juga masih dapat dinikmati di Selokan Mataram, masuknya lewat jalan inspeksi pengairan dari Desa Banyurejo Tempel. Lalu menyambung ke Seyegan, mampir sebentar ke Tuk Sibedug di Mranggen yang punya cerita tentang Sunan Kalijaga. Dilanjutkan menuju ke barat Ring Road Jombor, hingga perempatan Jl Kabupaten.

Sehabis itu, sepanjang pinggiran Selokan Mataram sudah dipenuhi bangunan pemukiman. Bila diselingi dengan berwisata kuliner di beberapa warung dan rumah makan di sana, sepertinya perjalanan penyusuran tak terlalu mengecewakan.

Hanya saja aliran Selokan Mataram, mulai dari utara Fakultas Peternakan UGM, dikotori oleh sampah plastik dan limbah domestik. Sayang, kami kehabisan waktu untuk meneruskan perjalanan hingga ke hilir.

Padahal di sana masih banyak yang layak dinikmati. Seperti misalnya Candi Tara, bangunan Budha tertua di Yogyakarta yang berada di wilayah Kalasan. Selanjutnya, menyaksikan bersatunya air dari Sungai Progo yang mengalir jauh lewat Selokan Mataram, masuk ke dalam Sungai Opak, di antara pohon-pohon tinggi yang tumbuh di sekelilingnya.