Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…
Kembali Yogya harus kehilangan seorang tokoh penting. Rabu 14 Maret 2007 kemarin selepas Sholat Isya KH. Zaenal Arifin Thoha yang akrab disapa Gus Zaenal harus berpulang mendahului kita semua. Dilihat dari faktor usia yang baru 35 tahun serasa sulit dipercarya Gus Zaenal telah berpulang ke Rahmatullah, apalagi Gus Zaenal juga tidak mempunyai keluhan penyakit bawaan yang serius. Namun kesemuanya itu jika telah menjadi garis kehendakNya tidak akan mungkin untuk bisa ditawar.
Rabu malam, setelah mengimami santri-santrinya salat Isya di Pondok Pesantren Mahasiswa "Hasyim Asy’ari", tiba-tiba Gus Zainal harus dibawa ke rumah sakit, karena merasakan dadanya sesak. Namun, sesampainya di PKU Muhammadiyah Gus Zainal sudah tidak bisa ditolong. Jantungnya tak berdetak lagi.
Malam itu pula jenazahnya dibawa ke rumahnya di bilangan Krapyak. Kabar meninggalnya Gus Zainal, tentu sangat mengejutkan. Tak kurang HM Nasruddin Anshoriy Ch pun terkejut, ketika malam itu sekitar 23.30 diberi tahu kalau Zainal Arifin Thoha meninggal. Baru-baru ini mereka berdua menulis buku bersama, Berguru Pada Jogja.
Sebelum meninggal, tak ada wasiat apa-apa yang diberikan kepada temannya. "Hanya, dia pernah merasa pesantrennya sudah mulai sesak," jelas Sugiarto, yang juga menunjukkan rekaman terakhir melalui telepon genggamnya ketika ia bertahlil. Tidak biasanya Gus Zainal meminta agar tahlilannya direkam. "Ternyata itu adalah suara Gus Zainal yang terakhir," kenangnya.
"Dia adalah guru sufi dan sahabat yang baik, banyak tulisannya dimuat media dan telah dibukukan. Atas meninggalnya Gus Zainal, banyak orang kehilangan. Bahkan, ia masih menyelesaikan studinya di program doktor Fakultas Ilmu Budaya UGM.” komentar Aprinus Salam, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM
Kehilangan Motivator
Prof Dr Suminto A Sayuti, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNY punya kesan khusus. "Meninggalnya penyair, kyai muda Zainal, Yogya kehilangan inspirator, motivator bersastra, seni dan budaya yang enerjik," ucapnya.
Bagi dirinya, ia melakukan sesuatu dengan segala keiklasan. Termasuk dirinya mendidik anak-anak muda untuk menulis seni, sastra dan budaya. "Saya dan FBS-UNY punya banyak kenangan. Hutang-hutang kebaikan Gus Zainal belum terbayar. Selamat jalan kyai muda dan pejuang sastra," kata Suminto penulis antologi ‘Malam Tamansari’.
Zainal Arifin Thoha, lahir di Kediri, 1 Agustus 1972. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1990), dan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogya (1998). Ia mengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asya’ari Yogya, juga menjadi dosen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Negeri Yogyakarta. Gus Zaenal meninggalkan seorang istri dan 2 orang putra yang masih kecil-kecil. Bahkan Istri beliau saat ini tengah mengandung putra ke-3 dan telah memasuki usia bulan ke-8 kehamilan.
Selama hidupnya, ia sering sekali menulis opini, kolom, esai, resensi, cerpen, puisi dimuat diberbagai media, termasuk di SKH Kedaulatan Rakyat, SKH Minggu Pagi, Merapi. Buku itu antara lain, ‘Membangun Budaya Kerakyatan: Kepemimpinan Gus Dur dan Gerakan Sosial NU (Titian Ilahi Pers, 1997), ‘Kenyelenehan Gus Dur: Gugatan Kaum Muda NU dan Tantangan Kebudayaan’ (Gama Media Yogya, 2001), Eksotisme Seni Budaya Islam; Khasanah Peradaban dari Serambi Pesantren (Bukulaela Yogya, 2002). Ia juga membuat buku terjemahan ‘Nasihat Pentung Bagi Pelajar dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari’ (Titian Ilahi Pres, 1995).
Ane, terakhir bertemu dengan Gus Zaenal, pada saat Halaqoh Nasional yang diadakan bulan Konsorsium Pondok Pesantren di Wisma LPP demangan Baru Muharram kemaren. Belia sempat meminjam Lapotp ane beliau gunakan untuk presntasi makalah beliau. Selamat jalan Gus, semoga “sowanmu” kepadaNya, menjadi sebuah perjumpaan yang indah, serta Alah berkenan memberikan tempat terbaiknya kepada Gus Zaenal…..
Allahummagffirlahu, Warhamhu, Wafihi, Wa’fuanhu……





